Orang Besar, Dosa Besar,Duit Besar

Jika kita lihat fenomena kini di negara kita, menurut saya miris kalau ybs sedang berusaha menapaki tangga pemilihan presiden tahun 2014. Malu.

Simak.

“Dosa-Dosa” Bakrie di Mata Sri Mulyani: Bermula dari Kasus Luapan Lumpur Lapindo sejak 28 Mei 2006, telah terjadi perdebatan sengit siapa pihak yang bertanggungjawab atas biaya penanggulangannya : PT Lapindo (Bakrie Family), negara atau dua pihak. Berdasarkan sumber-sumber yang saya himpun (Jusuf Kalla dan 3 Tahun Lumpur Lapindo), sebagian besar ahli drilling dan geologi menyatakan bahwa luapan lumpur Lapindo disebabkan oleh tindakan eksplorasi yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh keluarga Bakrie.  Fakta ini  pun didukung oleh hasil Audit Investigatif BPK atas Lumpur Lapindo yang mengindikasi terjadi pelanggaran prosedur dan peraturan mulai dari proses tender, peralatan teknis hingga prosedur teknis pengeboran sumur-sumur minyak di Sidoarjo. Fakta yang lebih meyakinkan adalah dokumen serta pernyataan Arifin Panigoro sebagai pemilik perusahaan operator pengeboran sumur PT Lumpur Lapindo yang mengaku PT Lapindo telah melakukan pelanggaran atas SOP serta tidak mau melaksanakan tindakan preventif. Karena penyebab utama terjadi sumburan lumpur di Sidoardjo adalah aktivitas pengeboran, maka pihak yang bertanggungjawab adalah PT Lapindo Brantas sebagaimana diatur dalam UU 23/1997 dan PP 27/1999. Meskipun sudah cukup jelas penyebab dan siapa penanggungjawabnya. (Sumber:http://nusantaranews.wordpress.com/2009/12/10/ perang-terbuka-sri-mulyani-vs-ical-dosa-dosa-bakrie-dimata-sm/).

Atau masih adakah lagi contoh lain?

Capek.

Mau belajar dari cara komunikasi kelas tinggi Pak Yusuf Kalla, beliau berkata begini.

TEMPO Interaktif , DEPOK – Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla mengatakan tidak ada tabung gas yang meledak. Yang terjadi ialah gas keluar akibat kebocoran selang sehingga memicu ledakan. “Tidak ada tabung yang meledak. Yang ada, gasnya keluar lalu meledak karena bocor,” katanya kepada wartawan seusai memberikan kuliah umum di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, Kamis (08/07).

Kalla menegaskan jika selang yang dibagikan pemerintah pun sudah berlabel SNI. Hanya saja setelah dua tahun digunakan, selang tersebut sudah tidak layak pakai, sehingga harus diganti dengan yang baru. Banyaknya kasus gas yang meledak, menurut Kalla bukanlah alasan bahwa program ini harus duhentikan. “Semua energikan ada resikonya. Enam puluh persen kebakaran terjadi karena listrik. Tapi bukan berarti anda akan berhenti pakai listrik kan!,” kata Ketua Palang Merah Indonesia ini. Terlebih lagi, selama 3 tahun terakhir hanya 36 kasus yang terjadi, yang berarti satu kasus ledakan setiap dua juta tabung yang beredar. Kasus ledakan yang terjadi pun tidak hanya terbatas pada tabung yang 3 Kg, tetapi juga yang ukuran 12 Kg. Oleh karena itu, program konversi gas tidak bisa begitu saja dinilai buruk. “Ini bukan masalah konversinya, tapi gasnya,” katanya. Ia berharap kasus ledakan tabung gas ini bisa ditekan menjadi satu kasus dalam 10 juta tabung. Untuk itu, pemerintah selain harus mengganti tabung juga harus menindak tegas para pengoplos. Selain itu, masyarakat juga harus rutin mengganti selang.

Nice wordy…

but still bloody.

36 baginya sekedar angka, bukan nyawa (manusia).

Pedih!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s