Bedah Buku Saat Berharga Untuk Anak Kita, Karya M. Fauzil Adhim

Berikut ini secuil yang saya dapat dari acara bedah buku M. F. Adhim karena saya datang telat (as always).

Seringkali ortu merasa sudah cukup mengingatkan anak sesekali tentang kewajibannya. Seberapa seringkah kita harus mengingatkan anak?

Kalau perlu setiap hari, tanpa marah, tanpa bosan, tanpa lelah terus mengingatkan anak kita untuk mengerjakan kewajibannya. Karena selama masih berada dalam tanggungan kita, anak itu adalah kewajiban kita untuk mengajaknya ke jalan yang benar.

Sedangkan orang seperti Abu Jahal saja yang sudah mengenal/paham islam dengan baik, bahkan sudah begitu dekat dengan Rasul SAW, itu saja tidak beriman dan tidak menjadi soleh? Bagaimana kalau tidak kenal Islam?

“Qu anfusakum wa ahlikum naaro”

Jagalah dirimu dan anak-anakmu dari api neraka.

Allah SWT menitipkan anak pada kita bukan untuk disekolahkan ke tempat yang mahal, bukan untuk menjadi jenius, bukan untuk menjadi pintar, bukan untuk menjadi seseorang yang hebat. Akan tetapi anak itu adalah titipan supaya dijaga jangan sampai terjilat api neraka! Itu saja. Sedang yang lain tidak akan ditanya, apakah anak kita menjadi kaya raya, menjadi tenar, menjadi public figure…tidak! itu tidak ditanya. Tidak pengaruh di mata Allah SWT.

Sudahkah kita dengan lemah lembut dan kasih sayang, dan penuh kefahaman akan kondisi anak kita, mengajaknya untuk bersama-sama ke masjid? Sudahkah kita mengajaknya ber tilawah Qur’an bersama? Sudahkah kita menayainya sudah berapa orang yang kamu beri manfaat hari ini? Bukankah orang yang paling baik adalah yang paling bermanfaat buat yang lain?

Sesudah kita mengenalkan, maka harus dilakukan pembiasaan, agar menjadi karakter yang baik. Biasa melakukan yang baik pun sebenarnya belum juga cukup, bukankah ada orang yang solatnya rajin tapi maksiat jalan terus? kenapa?

Karena hakikat solat belum merasuki jiwanya. Solat hanya kegiatan mekanis, tanpa didasari rasa keimanan yang dalam kepada Allah SWT.

Disebutkan juga bahwa pengertian walad adalah anak secara umum, apakah anak kandung, anak asuh, anak saudara,anak angkat, anak didik, anak tetangga, semua adalah tanggung jawab kaum Muslim secara bersama. Jadi bukan berarti jika tidak memiliki anak kandung terbebas dari kewajiban mendidik anak, tetap wajib mendidik anak apakah itu  anak saudara, anak didikan, anak asuh dll.

Sumber:  Bedah Buku bersama M. Fauzil Adhim dan Kyai Jallaludin Assyatibi  di Masjid Habiburrahman, IPTN BAndung.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s