Anak Adalah Amanah

Akhirat lebih dulu dari dunia, jika kita ingin sukses di dunia maka perlu ilmu, jika pingin sukses di akhirat butuh ilmu juga. Akan tetapi jika kita menginginkan akhirat maka dunia pun dapat. Hal ini dikarenakan sukses akhirat itu lebih berat dan untuk menggapainya perlu menjadi sukses didunia lebih dulu. Dunia itu cetek!

Kata Qur’an: Allah tidak mengubah nasib suatu kaum melainkan jika mereka merubah nafs-nya ,jiwanya.

Lihatlah orang Israel sekarang, mereka sukses menggenggam dunia karena telah melakukan pembinaan jiwa kaumnya melalui Kibbutzim. Albert Einstein, Niels Bohr, Emile Durkheim, Viktor Frankl, Keluarga Rothschild,  mereka semua Yahudi. Melalui jiwa yang sudah kokoh keimanannya dan karsanya tersebut, mereka menambahkan faktor kecerdasan dan bakat dalam karyanya. Jadilah mereka bangsa yang kuat sekarang.

Bagaimana dengan umat Islam ? mereka lebih banyak bergantung pada harta dan kuasa (Maal dan Mulk). Mereka bilang tidak bisa merubah apa-apa tanpa harta, uang  dan tanpa kekuasaan , jabatan di pemerintahan? Kita tidak punya banyak menteri, tidak punya banyak uang, tidak punya banyak pendukung? bagaimana mau merubah masyarakat?

Menurut Pak Fauzil Adhim , ketergantungan pada Maal dan Mulk ini mirip dengan ketergantungan seorang anak kecil pada “kempeng”, ketergantungan seorang dewasa pada sebungkus rokok, ketergantungan pemuda pada obat memabukkan, ketergantungan pada wanita penghibur. Semua sama, melemahkan jiwa. Dan jiwa lemah adalah pangkal semua kegagalan.

“Quu anfusakum wa ahliikum naaro” , jagalah diri dan keluargamu dari api neraka.

Marilah, kita bangun kekokohan jiwa sejak masa kanak-kanak. Jangan menganggap bahwa membekali ketrampilan, kecerdasan, memupuk bakat lebih penting dibandingkan menanamkan akidah, rasa keimanan yang dalam, rasa ketauhidan. Jika kita tidak mampu melakukan sendiri mintalah bantuan orang lain yang sanggup. Bukankah Allah menitipkan anak kepada kita berarti bahwa Allah sudah menyatakan kita layak untuk diserahi beban menjaga akidahnya?

Waktu kita sedikit saja untuk mengisi jiwa anak , karena mereka akan segera besar, begitu anak sudah asik bersama teman sebayanya kadangkala nasihat sudah tidak masuk lagi ke hatinya. Begitu anak tergantung pada TV atau games, sulit sekali mengarahkannya bukan? Anak juga akan sibuk dengan agenda sekolahnya, sibuk dengan temannya, sibuk dengan permainanya, luangkan waktu untuknya ketika dia mengharapkan kasih tulus orang tua untuk menyapa dan memperhatikannya. Bukankah kita mengalami saat anak mengucur airmatanya ketika kita hendak berangkat meninggalkannya untuk bekerja? Dia lapar akan belaian sayang, ucapan menenangkan, tatapan yang hangat bahwa kita ayahnya benar-benar menginginkannya lahir di dunia.

Waktu kita tidak lama!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s