Poligamy is a hobby, believe or believe

Begitu banyak orang yang bilang kalau mereka menolak poligami. Orang boleh bicara begitu jika dia tidak suka pacaran dan berganti pacar. Sebelumnya kita bicara definisi pacaran. Pacaran disini yang dimaksud adalah pacaran ala “full package”. artinya sudah termasuk “paket” hubungan sex. Kenapa definisinya seperti itu? Di jaman sekarang adalah jamannya free sex, bukan pacaran kalau belum melakukan “itu”. Berapa banyak yang seperti itu? Sudah mulai dari usia muda sekali, taruhlah sudah nggak aneh sekarang melihat anak SMP bermesraan di jok motor berdua nempel “butt to …..” pokoknya full nempel kayak prangko. Iya bukan? Kalau di tempat keramaian dah mesra begitu, bagaimana di tempat sepi?

Kenapa sebab?

Ya internetlah salah satunya sudah menjadi barang murah…easy access…whereever you want…whenever..

siapapun bisa akses, begitu anak kecil sudah bisa baca dan akses internet, segera mereka tahu pornografi.

Dan mata adalah jendela untuk masuknya ide-ide baik positif negatif. Jika tidak punya filter yang kuat, dari situlah satu ton bibit  pornografi dimasukkan ke dalam 4-5 kilo kepala anak manusia. Tumbuhlah bibit itu menjadi tanaman pornografi. Jadilah ia manusia pornografi. Begitu seorang laki-laki ketemu dengan perempuan, maka hubungan mereka adalah seperti yang sering mereka lihat di internet. Kenapa bicara menikah secara agama? toh sex mudah dipuaskan dimana-mana? di kamar kos, ketika rumah sepi, di kebon, di mobil…….where ever you like it! Happy satanic life isn’t it?

Menyedihkan? memang tapi hidup harus dihadapi. We still live on earth man!

Jadi sebenarnya pacaran itu sudah sama dengan menjalin hubungan suami istri tapi secara parsial, secara “yang enak-enaknya kita ambil, yang beratnya kita tinggalkan”. Atau mengambil yang enak dan membuang tanggung jawab. Kalau menikah punya anak maka anak akan dipelihara, tapi kalau pacaran punya anak maka si anak dibuang ke tong sampah atau dibunuh dimasukkan ke got atau septic tank. Masih agak mending kalau menurut dongeng di Eropa ada seorang bayi dibuang dengan dimasukkan box rotan empuk dan diselimuti/dihangatkan si bayinya lalu ditaruh di pintu depan halaman rumah orang kaya atau orang yang diperkirakan akan memungutnya/mengadopsinya, berharap orang kaya itu sudi memeliharanya.

Dimana tanggung jawab? dia sudah pergi bersama pasangan barunya.

Saya pernah bertanya pada seseorang yang melakukan free sex, seorang yang sudah berumur 50an. Berapa banyak perempuan yang sudah anda tidur bersama? Dia jawab sudah tidak terhitung lagi. Teman saya ini seorang poligamer sejati(sebutanku untuk “pemain” poligami/ poligami ala pacaran/main-main). Berapa jumlah orang semacam dia? sepertinya tidak sedikit.

Apakah saya membencinya? Perilakunya ya, secara manusia sama manusia tidak. Dia teman saya.

Sudah begitu , orang-orang/media /tv lewat figur figur selebritisnya meneriakkan poligami itu kejahatan/ kejelekan/ Syekh Puji menikahi gadis belasn tahun itu keterlaluan. Siapakah yang mereka teriaki itu? Sebenarnya kembali pada diri mereka sendiri. Bukankah mereka sering gonta-ganti pasangan? Ketika berpasangan apakah tidak pakai sex? Bukankan perdagangan wanita belasan tahun untuk sex sudah banyak terjadi?

Lebih bertanggung jawab itu poligami secara Islam. Jika anak hasil hubungan anda lahir, anda akan memeliharanya, mendidiknya, bukan meninggalkannya. Silahkan punya istri sampai 4 jika anda sanggup, pilih yang paling bisa memuaskan gairah sex anda, yang paling hot menurut anda pribadi bukan menurut orang lain. Hidup bahagia bersamanya, nikmati kecemburuan pasangan satu dengan lainnya. Itu adalah tanda cintanya. Bukankah rata-rata pemimpin bangsa Indonesia suka poligami? Bung Karno, Suharto, Sultan, Pakubuwono, Pejabat PNS, Direktur dan banyak lagi hampir semua lapisan bahkan termasuk buruh pabrik sekalipun mempraktekkannya. Modal poligami itu harus berani, humoris, harus “birahi setiap hari”.

Poligami? jangan dicela, mayoritas kita melakukannya.

Poligami islami? lebih bertanggung jawab, lebih fitrah/bersih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s