Kompus

Komunitas Futsal Kereta Api

Sejarah Timnas Indonesia (lagi)

Berikut ini adalah posting lain di http://danwin1991.blogspot.com/2009/11/karier-sejarah-sepak-bola-nusantara.html

Karier Sejarah Timnas Nusantara

Nederlands Indie Voetbaal Unie (NIVU)http://anaxnekad.files.wordpress.com/2009/01/timnas-indonesia.jpg?w=630

MEDIA dan olahraga adalah dunia yang tidak terpisahkan, bahkan sejak berabad-abad silam. Seterkenal apakah Maradona sebagai superstar sepakbola jika tiada media yang membesarkan namanya? Atau, apakah Chris “The Dragon” John, seorang petinju dari kota kecil di suatu negeri antah-berantah, dapat dikenal sebagai juara dunia jika bukan karena peran pers yang menjulangkan karir prestasinya? Media massa adalah jawabnya.

Indonesia Pernah ke Piala Dunia

http://www.fussballtempel.net/afc/IDN/Utama_Senayan2.jpgApakah ini bangsa kita yang dulu sungguh luar biasa nahkan karier pemain kita sudah di samakan sama pemain legenda dunia tahun era abad 20 awal. kita lihat saja perjalananya dan simak .Rekam-merekam jejak olahraga tanah air sudah dimulai sejak tahun-tahun pertama abad ke-20, abad di mana nusantara memasuki babak baru dalam upaya menunjukkan keberadaannya sebagai bangsa, kendati masih sebagai kaum yang terperintah. Gerakan rakyat yang tampil dalam bentuk-bentuk seperti suratkabar dan jurnal, rapat dan pertemuan, serikat buruh dan pemogokan, organisasi dan partai, novel, nyanyian, teater, dan pemberontakan, merupakan fenomena yang paling mencolok bagi orang Belanda untuk melihat kebangkitan Bumiputera pada awal abad ke-20. Kebangkitan yang paling kentara adalah kebangkitan intelektual pribumi yang tercitra jelas melalui gerakan politik, termasuk lewat pers.

Olahraga memang bukan menjadi tema utama pers kala itu. Bahkan di masa itu belum ada suratkabar yang khusus memberitakan olahraga. Headline yang paling populer masih dikuasai masalah pemerintahan dan perdanganga, sementara laporan krida masih sebatas sebagai pelengkap, semisal laporan hasil pertandingan sepakraga (sebutan kuno untuk sepakbola) antara tim “anu” melawan tim “itu”, liputan pendek tentang pertandingan berkuda, atau ulasan singkat ihwal olahraga dan kesehatan.

Pemberita Betawi merupakan salah satu dari sedikit koran yang mempelopori pemberian porsi khusus untuk berita-berita olahraga, kendati masih berupa kolom kecil, dengan nama rubrik “Sepakraga”, lihat dalam Pemberita Betawi 4 Agustus 1906 yang mengabarkan akan diadakan beberapa pertandingan sepakbola. Harian Bintang Batavia juga kerap menyajikan laporan olahraga, misalnya edisi 2 November 1906, Bintang Batavia memuat pengumuman perlombaan berkuda.

Setelah hanya memberitakan jadwal agenda olahraga, pada 1907 pemberitaan mulai meningkat selangkah. Beberapa koran sudah berani menurunkan laporan mengenai pertandingan olahraga. Kutipan dari suratkabar yang ada menunjukkan mulai besarnya perhatian pada olahraga, khususnya sepakbola. Pembrita Betawi paling banyak memuat berita olahraga.

Beberapa warsa berselang, tepatnya pada akhir 1910, Pantjaran Warta melakukan terobosan besar dengan menyisipkan suplemen olahraga dengan jatah 4 halaman di setiap edisinya. Seminggu sekali, melalui rubrik “Kabar Sport” yang diasuh oleh Noerdin Rassat, Ch Anwar, dan Marzoeki di Betawi, serta M Taher di Padang, Pantjaran Warta menurunkan 4 halaman khusus liputan olahraga. Selain menghidangkan berita olahraga dari berbagai daerah, semisal sepakbola, berkuda, tinju, sampai gulat, isi suplemen ini ternyata cukup variatif. Artikel tentang kesehatan, olahraga dan agama, olahraga Bumiputera, juga kritik atas kinerja pengurus atau perkumpulan olahraga, silih berganti mengisi lembar demi lembarnya. Suplemen berita olahraga ala Pantjaran Warta ini sangat luar biasa dan merupakan penanda khusus bagi terbentuknya koran-koran olahraga yang kelak muncul di era modern.

Sesuai dengan zaman, pemberitaan olahraga kala itu masih terkotak-kotak berdasarkan ras: Eropa/Belanda, indo peranakan, Timur Asing, Bumiputera. Klasifikasi ini juga berlaku terhadap para atlet maupun organisasinya. Kalangan Belanda/Eropa tentu saja yang menjadi primadonanya. Namun di sisi lain, kemajuan olahraga sangat penting bagi kalangan Tionghoa dan Bumiputera kala itu. Mereka melihat olahraga bukan hanya sekadar hiburan semata karena keterbatasan akses mereka dalam ranah politik dan pemerintahan. Tetapi, perkembangan olahraga kalangan non Eropa, terutama Bumiputera, tidak mampu mencapai kepesatan yang maksimal. Banyak kendala, termasuk aksi reaktif dari pemerintah kolonial Hindia Belanda yang mengganggap aktivitas olahraga sebagai gerakan politik yang nyata.

Pembedaan ras dan sosiologis yang menonjol dalam laporan-laporan olahraga yang diturunkan koran-koran semasa itu, bahkan oleh suratkabar milik Bumiputera sendiri, salahsatunya seperti yang dimuat Pantjaran Warta tanggal 9 September 1910 dalam sebuah laporan sepakbola. Berikut nukilan berita tersebut:

“… waktoe saja melihat keseblah I.C. (Inlandsch Club) hati saja berdebar, saja rasa tentoe kalah, sebab orangja boleh bilang semoea ketjil tambahan lagi Inlander makan sajoer berlawan sama Europa makan daging, ….”

Namun, terjadi kejutan. Para Inlander pemakan sayur yang berbadan kerdil itu ternyata sanggup menahan gempuran tim carnivora Eropa. Pertandingan yang dihelat dalamrangka perayaan hari ulangtahun Ratu Kerajaan Belanda, Wilhelmina, pada 31 Agustus 1910 tersebut berakhir imbang dengan hasil 2-2. Bahkan hebatnya lagi, dalam pertandingan ulang pada 11 September 1910, Inlandsch Club mampu menghantam lawannya yang superior itu dengan skor telak, 4-0, padahal ketika para pesepakbola kita bertanding dalam keadaan berpuasa! Inilah sepenggal catatan spektakuler bagaimana kawanan Pribumi berhasil menggulingkan dominasi Barat, dan itu terjadi pada kurun yang serba tidak adil.

Seiring perjalanan tempo di dekade kedua abad ke-20 itu, di mana aktivitas pergerakan kian memanas dengan lahirnya banyak organisasi Bumiputera, semisal Boedi Oetomo (1908), Sarekat Dagang Islamiah (1909), Indische Partij dan Moehammadijah (1912), dan lain-lainnya, porsi pemberitaan olahraga pun mulai agak tersendat, digantikan dengan tulisan-tulisan berbau politik. Di era itu banyak koran yang muncul sebagai corong perhimpunan pergerakan, atau surat-suratkabar umum yang diambil-alih kepemilikannya oleh pengurus organisasi. Pantjaran Warta, contohnya, sejak 1913 menjadi organ Sarekat Islam cabang Batavia di bawah pimpinan Raden Goenawan.

Ada beberapa peristiwa monumental olahraga Indonesia yang terjadi di era pergerakan nasional. Salahsatu yang paling bersejarah, tentu saja kelahiran Perserikatan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI), yang dicetuskan di Jogjakarta pada 19 April 1930. Suratkabar Djawa Tengah melaporkan:

“… lantas diambil kepoetoesan, I.V.B. didiriken dengan nama ‘Persatoean sepakraga seloeroeh Indonesia’ dengan zetel di Mataram. Dalem pilihan bestuur , ternjata Ir Soeratin diangkat sebagai voorzitter … kedoedoekan boeat consul ditetepkan di Soerabaja boeat Oost Java, Solo boeat Midden Java, dan Jacarta boeat West Java… Bendera P.S.S.I. ditetepken merah poetih….”

Perkembangan pers krida di Indonesia menemukan geliat setelah kelahiran PSSI itu. Sekira warsa 1936, Nederlandsch Indie Voetbal Unie (NIVU) –wadah sepakbola Hindia Belanda yang terdiri dari orang-orang Belanda, Tionghoa, dan Bumiputera– memiliki majalah mingguan bernama Sports. Selain itu, koran-koran umum pun kembali getol menyiarkan berita-berita olahraga, di antaranya laporan dari Pemandangan mengenai Kongres PSSI ke-6 di Bandung pada 29 Mei 1936-1 Juni 1936 , serta Noesantara yang mewartakan pertemuan antara PSSI dan SIVB (Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond) pada 28 Maret 1937.

Media umum lainnya, termasuk Djawa Tengah, Pandji Poestaka, Doenia Baroe, Oetoesan Indonesia, Bintang Hindia, Bintang Timoer, Sinar Deli, Pewarta Deli, Sinar Sumatra, Pertja Selatan, hingga Pemberita Makassar dan Pewarta Borneo, ikut menyempilkan sisipan olahraga secara berkala ataupun rutin dalam setiap edisinya. Bahkan, koran-koran Tionghoa, Sin Po, Keng Po, Sin Jit Po, dan Sin Tit Po, turut bersaing menyajikan berita krida. Khusus Sin Po, harian terbitan Surabaya ini memberi porsi yang cukup banyak dalam pemberitaan olahraga. Bahasannya pun tak hanya melulu sepakbola. Laporan pertandingan tenis, bulutangkis, bahkan bola sodok dan polo air menjadi liputan menarik.

Satu lagi catatan emas sejarah olahraga nasional adalah keikutsertaan orang-orang Bumiputera dan Tionghoa dalam perhelatan sepakbola terbesar sejagat, Piala Dunia 1938 di Prancis. Di bawah bendera NIVU, “tim nasional” Indonesia ini adalah satu-satunya negara yang mewakili Asia. Para pemain yang memperkuat NIVU untuk berlaga di Piala Dunia antaralain: Van der Burg, Telwe, Hukom, Dorst, Faulhaber (Belanda), Hong Djin, Tan See Han, Bing Mo Heng (Tionghoa), Anwar, Nawir, Pattiwael, Soedarmadji, serta Taihitu (Bumiputera).

Susunan tim ini bukanlah komposisi terbaik di Indonesia waktu itu. NIVU yang sebelumnya berjanji untuk membentuk tim gabungan dengan para pemain klub yang berafiliasi dengan PSSI, ingkar janji. Kuat dugaan, NIVU cemas jika ternyata pemain-pemain dari PSSI yang lebih banyak terpilih memperkuat tim nasional. Maka itu, para pesepakbola Bumiputera yang sudah punya nama mentereng pada waktu itu justru tidak masuk dalam tim nasional untuk menghadapi Piala Dunia 1938 di Prancis. Nama-nama itu di antaranya adalah Maladi, Moestaram, Djawad, Jazid, dan lainnya.

Sebelum ke Prancis, tim nasional singgah dulu ke Belanda untuk melakukan beberapa pertandingan ujicoba. Sin Po –yang uniknya selalu menyebut tim NIVU dengan sebutan “Team Indonesia” –secara kontinyu melaporkan perjalanan NIVU ke Eropa. Sin Po edisi 26 Mei 1938 memberitakan van Bommel dari NIVU telah menghadap Menteri Urusan Tanah Jajahan yang akan menerima tim Indonesia pada 31 Mei. Sin Po 27 Mei 1938 memberitakan hasil pertandingan Indonesia melawan HBS, skor 2-2. Edisi 28 Mei 1938, dilaporkan bahwa Mo Heng (kiper) cedera sehingga diragukan bisa tampil di Prancis, juga bahwa tim Indonesia menyaksikan pertandingan Liga Belanda antara Heracles melawan Feyenord. Sin Po 2 Juni 1938 mewartakan, Indonesia menang atas klub Harleem dengan skor 5-3.

Di putaran final Piala Dunia di Prancis, Indonesia ternyata kalah telak dari Hungaria. di perempat final. Enam gol tanpa balas memberondong gawang Indonesia yang dikawal Mo Heng yang ternyata dipaksakan tetap main. Hungaria kala itu memang dikenal sebagai salahsatu raksasa sepakbola dunia. Sin Po secara panjang dan detail mengulas jalannya pertandingan itu yang dilansir dari laporan siaran radio. Dalam edisi 7 Juni 1938 itu, Sin Po menampilkan headline nan heroik: “Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah.”

Tetap Melenggang di Era Jepang

Menjelang akhir kekuasaan Belanda di Indonesia, perkembangan olahraga nasional mengalami masa-masa menggembirakan. Pada 1936 di Semarang, Persatuan Lawn Tennis Indonesia (PELTI) didirikan, dengan ketua terpilih adalah Dr Boentaran. Cabang lainnya pun segera menyusul. Pada 1941, Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia (PBKSI) dideklarasikan di Jakarta dengan Mr Roesli selaku ketuanya. Sementara itu cabang atletik juga bermaksud sama membentuk organisasi pusatnya, tetapi rencana itu batal terlaksana karena Jepang keburu menerjang masuk dan meruntuhkan pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Tahun 1942, Jepang berkuasa di Indonesia dan merombak segenap tatanan kehidupan yang selama ini berlaku di bawah kekuasaan Belanda. Baru dua bulan datang, Jepang sudah membreidel nyaris semua suratkabar tanpa ampun, Pandji Poestaka adalah salahsatu yang beruntung lolos dari berangus.

Tak lama, di bawah naungan Djawa Sjinboen Kai, diterbitkan sejumlah suratkabar. Selain Pandji Poestaka, suratkabar yang bernafas di bawah kaki pemerintahan Jepang antaralain Asia Raja, Tjahaja, Soeara Asia, Sinar Matahari, Sinar Baroe, Pembangoen, Kanpo, Kung Yung Pao, Djawa Baroe, dan Keboedajaan Timoer.
Sebelum Jepang datang, sekira awal 1940-an, telah terbit mingguan yang khusus mengulas berita olahraga, dengan nama serupa: majalah Olahraga. Nyaris seluruh halaman majalah ini digunakan untuk mengupas olahraga dalam negeri, kecuali dua halaman untuk berita olahraga mancanegara yang ditampung dalam rubrik “Gelanggang Luar Negeri”. Olahraga terbit atas prakarsa Moh Soepardi (pemimpin umum) dan Wienaktoe (pemimpin redaksi).

Selanjutnya, di bawah rezim militernya, pemerintahan Jepang terpaksa memberikan sedikit kelonggaran kepada rakyat untuk membentuk badan olahraga. Badan baru tersebut bernama Gerakan Latihan Olahraga Rakyat (Gelora), dipimpin oleh Otto Iskandardinata. Namun pemerintah militer Jepang akhirnya mengubah kebijakannya dengan membubarkan Gelora, dan digantikan dengan pembentukan Pusat Tenaga Rakyat (Putera).

Selain itu, pemerintah pun sempat memberlakukan beberapa larangan dalam bidang krida. Pandji Poestaka melaporkan, pada 5 Juli 1942 pemerintah mengumumkan bahwa larangan bagi para pemuda untuk mengadakan pertandingan olahraga, seperti sepakraga, bola keranjang, tenis, dan lain-lainnya, hanya diperuntukkan bagi pemuda yang ikut belajar dalam persiapan untuk Hari Pemuda, yang diadakan setiap hari. Maksudnya ialah supaya para pemuda itu tidak lalai akan kewajibannya.

Namun pelarangan itu tak berlangsung lama. Hanya dalam beberapa bulan berikutnya, September 1942, telah dilangsungkan Pekan Olah Raga oleh Ikatan Sport Indonesia (ISI) di Jakarta. Perhelatan besar yang berlangsung selama 5 hari beruntun itu disebut-sebut sebagai Olimpiade Indonesia pertama sebab baru sekali ini anak-anak negeri dapat mengusahakan even olahraga yang cukup besar. Seperti yang dilansir dari Sinar Matahari , cabang olahraga yang dipertandingkan dalam even itu antaralain sepakbola, tenis, lompat tinggi, lempar tombak, bola keranjang, kasti, baseball, dan lainnya. Dari masing-masing kota tidak kurang dari 20 pemuda yang turut ambil bagian dalam perlombaan yang dihelat ISI itu. ISI sendiri kelak bermetamorfosa menjadi Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI).

Meski masih berwujud sebagai media umum, tampaknya Sinar Matahari memainkan peran penting dalam pemberitaan mengenai agenda olahraga anak-anak bangsa. Masih di bulan September, Sinar Matahari kali ini memberitakan bahwa ketua serta kapten Persatuan Sepakbola Indonesia Mataram (PSIM), K.R.T Honggowongso dan Samhoedi, menerima Piala Kehormatan dari Letnan Jenderal Imamura atas prestasi klub asal Jogjakarta itu sebagai jawara cabang sepakbola dalam Pekan Olah Raga Nasional yang diselenggarakan oleh ISI di Jakarta.

Selain Sinar Matahari, suratkabar lain yang cukup konsisten mengabarkan informasi olahraga di masa pendudukan Jepang adalah Sinar Baroe. Dalam edisinya tanggal 21 Mei 1943, misalnya, Sinar Baroe memuat berita tentang jalannya rapat para pemimpin olahraga nasional yang diadakan di Jakarta pada 18 Mei 1943. Pertemuan yang diketuai Dr Moewardi ini memutuskan akan mengadakan beberapa pertandingan olahraga dalam perayaan pasar malam di Jakarta.

Sebelumnya, 8 Desember 1942, bertempat di Solo, ISI menyelenggarakan Kejuaraan Bulutangkis Nasional. Even tersebut dibuka langsung oleh Widodo Sosrodiningrat selaku Ketua Umum ISI. Pada masa itu, bangsa Indonesia sudah memiliki jago-jago bulutangkis yang cukup ternama, sebut saja Sudirman, Basrul Jamal, Oei Hok Tjoan, Liem Soei Liong, juga Naspirin.

Mengenai riwayat bulutangkis di Indonesia, majalah Olahraga pernah mengulasnya pada edisi 21 Mei 1940 dengan judul artikel “Asal-Oesoelnja Badminton Sport”. Disebutkan, badminton –mulanya adalah nama suatu tempat di Inggris– menjadi permainan yang sangat populer di Indonesia dewasa itu. “Permainan badminton tela diimport ke sini dari Singapore, dan telah mempoenjai hikajat di Indonesia koerang lebih 10 tahoen lamanja,” demikian sedikit kutipan dari artikel di majalah Olahraga itu.

Kembali ke situasi olahraga nasional di masa pendudukan Jepang. Saat itu, alat-alat olahraga semakin sulit didapat, dan jikapun ada, harganya pasti melangit. Tetapi, dengan segala keterbatasan, cabang sepakbola dan bulutangkis masih dapat bertahan. Sementara dalam perkembangannya, cabang-cabang lain pun mulai ikut menggeliat, semisal judo dan baseball yang mulai digiatkan di sekolah-sekolah. Cabang-cabang yang digalakkan di masa Jepang adalah terutama jenis olahraga fisik yang dimaksudkan sebagai pelatihan untuk orang-orang Bumiputera sebagai kekuatan pendukung Jepang dalam menghadapi perang melawan Sekutu.

Ambisi Soekarno, Puncak Olahraga Nasional

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 dan membentuk kabinet, bidang olahraga ditempatkan di bawah wewenang Menteri Pengajaran yang dijabat Ki Hadjar Dewantara. Lantaran kondisi negara yang masih labil dan ancaman kembalinya Belanda yang membonceng Sekutu, pers pada fase ini, khususnya pemberitaan olahraga, sedang mengalami masa-masa sulit, kendati juga bermunculan koran-koran baru yang menyokong berdirinya republik, termasuk Kedaulatan Rakjat, Merah Putih, Berita Indonesia, Gelombang Zaman, Fikiran Rakjat, Pelita Rakjat, dan semacamnya.

Setelah pengakuan kedaulatan 1949, ranah berita olahraga pun bangkit. Majalah Olahraga dan Sin Po, setelah mengalami kelam semasa pendudukan Jepang, kembali bergairah menggelontorkan berita-berita olahraga. Dalam terbitan 1 April 1953, majalah Olahraga memuat teriakan dari sang penyambung lidah rakyat Indonesia, Soekarno, ihwal semangat bersepakbola:

“Bola disukai oleh anak di kota dan di desa, dan mulai ketjil kita semua sudah menjadi pemain bola. Di sekolah, kita mulai main sepakbola setjara teratur, meskipun belum sungguh-sungguh. Marilah kita langsungkan kemadjuan itu!!!”

Sin Po pun turut menendang lewat edisi 7 Juni 1952 dengan pewarta dari cabang renang. Seperti yang diberitakan Sin Po, rekor renang nasional berhasil dipecahkan oleh dua orang perenang dalam even Kejuaraan Berenang Seluruh Indonesia yang diadakan di Mangga Besar, Jakarta, pada 6 Juni 1952. “2 rekord Indonesia telah dipetjahkan oleh wakil Indonesia ke Helsinki, Sunarko, dan perenang muda dari (perkumpulan) Hu Kuang, Tio Tjoe Hong,” sebut Sin Po dalam laporannya itu.

Sementara itu, di awal kelahirannya sebagai negara berdaulat, Indonesia mampu menghelat agenda besar olahraga. Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada 9-12 September 1948 di Solo membuktikan bahwa olahraga Indonesia masih tetap bergerak meski dalam situasi darurat perang. Bahkan, pada 1946, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) telah berdiri di Jogjakarta. PORI kemudian berganti-ganti nama, hingga lahirlah Komite Olahraga Indonesia (KOI) di Jakarta pada 25-26 Oktober 1961. Setahun kemudian, Komite Olaharaga Nasional Indonesia (KONI) dikukuhkan setelah sebelumnya, sejak berdiri pada 1964 , berperan sebagai organisasi mandiri dan non politik untuk mendampingi KOI sebagai komite olahraga nasional.

Di bawah pemerintahan Presiden Soekarno, olahraga Indonesia mencapai puncak-puncak keemasannya. Saat itu Indonesia memiliki gerbong generasi yang berisi para olahragawan berprestasi tingkat dunia. Dari cabang tenis ada Ketje Sudarsono, Tan Liep Tjauw, juga Lim Djoe Djiem, serta para penerusnya yakni Lita Sugiarto dan Lanny Kaligis yang merajai dunia tenis Asia. Sepakbola memunculkan nama-nama Anwar Udjang, Soetjipto Soentoro, Abdoel Kadir, Andjas Asmarra, Jacob Sihasale, hingga Judo Hadianto, yang membawa Indonesia menjadi salahsatu jagoan sepakbola Asia. Tentang sepakbola, majalah Garuda pernah berbicara melalui rubrik “Olah-Raga”, pada edisi 8 Juni 1952:

“Semua bahan2 dapat mendjadikan tumbuhnja usaha2 memperbaiki dan memadjukan sepakbola Indonesia. Kita masih perlu akan keteguhan hati, apa jang dinamakan spirit untuk memperdjoangkan terus, meski sudah dalam fase kekalahan. Masih berharap dapat kemungkinan menang bila peluit terakhir belum berbunji. Melenyapkan sifat ‘njerah’ kalau sudah merasa agak lemah, dan mendjadi ‘malas’ tak banjak berusaha.”

Indonesia masih menjadi negara terkuat di dunia di cabang bulutangkis, yang dimotori oleh generasi Ferry Sonneville, Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Christian Hadinata, Mulyadi, Iie Sumirat, Minami, Theresia Widiastuti, sampai Utami Dewi. Di cabang tinju, Wim Gommies, Syamsul Anwar, Frans van Bronckhost, menjadi andalan Indonesia. Sementara Kristiono Sumono dan Naniek Suwaji adalah kebanggaan dari cabang renang. Di ranah atletik, Indonesia punya pelari Caroline Rieuwpassa yang cukup ternama di Asia. Nah, mengenai cabang terakhir yang ternyata tidak cukup populer ini, majalah Garuda punya alasan, “… atletik memang kalah menarik djustru karena tjabang olahraga ini memang belum meluas dalam masjarakat kita.”

Gemerlap potensi dengan seabrek prestasi itu, juga sebagai bentuk perlawanan terhadap negara-negara imperialis, membuat Soekarno sangat bergairah untuk melakukan gebrakan-gebrakan lewat galah panjang olahraga. Hasilnya, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah Asian Games, pesta olahraga terbesar se-Asia pada 1962.

Setahun kemudian, untuk menandingi Olimpiade yang digelar negara-negara Barat, Soekarno menggelar GANEFO (Games of New Emerging Forces) di Senayan, Jakarta, 10-22 November 1963, yang diikuti 48 negara. Dari ambisi Soekarno inilah, kemudian mewujud berbagai fasilitas olahraga berkaliber dunia yang menjadi kebanggaan negeri, yakni Istana Olahraga (Istora) Senayan Jakarta dan Stadion Gelora Bung Karno yang menjadi lapangan sepakbola terbesar dan termegah se-Asia kala itu.

Sejalan situasi olahraga nasional yang sedang menuju puncak, media pers ikut juga merayakannya. Beberapa suratkabar yang turut dalam gemerlap suka-cita olahraga nasional di kurun itu tercatat nama-nama seperti Pesat, Pantja Raja, Garuda, bahkan Harian Rakjat dan Api Islam. Misalnya, dalam majalah Pesat edisi 13 Januari 1962, seorang jurnalis bernama M Joso menulis demikian:

“Maka sungguh penting artinja olah-raga bagi pembaharuan djiwa jang sedang diliputi oleh djiwa jang penuh dengan ketjurangan dan tidak djujur pada dewasa ini. Dengan mendjalankan olah-raga menurut peraturan jang sudah ditetapkan, dapatlah kita menanam djiwa jang diliputi oleh kesutjian dan kemurnian, dan dapat menimbulkan budi pekerti jang halus dan hati jang tulus dalam djiwa bangsa Indonesia.”

Dalam edisi yang sama, Pesat juga memuat tulisan senada dari seorang jurnalisnya yang lain, AA Katili. Dengan menampilkan prolog tentang keberhasilan atlit-atlit di dunia yang meraih kejayaan di Olimpiade, Katili membakar gelora rakyat olahraga nasional dengan menulis:

“Siapakah di antara athlet-athlet kita jang tidak bertambah tjepat degupan jantungnya membatja epos di atas? Siapakah di antara kita jang tidak bermimpikan saat demikian, dalamnja lambang kesatuan kita naik ke udara dengan gagah-megahnya di tengah-tengah Arena Dunia dengan iringan kumandang lagu Indonesia Raya ………..?

Tetapi, kita masih bermimpi dengan kedua kaki di bumi! Kita insaf bahwa masih lama tibanya saat jang alamat itu. Berpuluh-puluh tahun lagi kita harus bekerdja dalam kemauan jang kuat ……. dalam segala lapangan!”

Di era Soekarno, semua tanah kehidupan manusia Indonesia, termasuk seni dan olahraga, memang tak bisa lepas dari satu pusat muara: revolusi! Njoto, petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Harian Rakjat. Melalui suratkabar merah yang dipimpinnya itu, Njoto berlantang, “”Barangsiapa masih berkata djuga bahwa seni itu non-politik, sesungguhnja dia itu reaksioner.” Bukan saja jurnalistik, lanjut Njoto, tetapi sport (olahraga) pun tidak bisa disangkal lagi bertautan erat sekali dengan politik. “Kalau sport sudah politik, apalagi sastra dan seni!” seru Njoto berapi-api di Harian Rakjat tanggal 4 Maret 1964.

Gelora membakar semangat seperti itulah yang menjadi ciri khas kehidupan pers di zaman Orde Lama, bahkan dalam lingkungan olahraga sekalipun. Di mata Soekarno, olahraga bisa menjadi sesuatu yang sangat serius, bisa menjadi senjata untuk melawan kapitalisme, itulah salahsatu yang menjadikan kebanggaan olahraga untuk bangsa Indonesia.

Dua Raksasa di Rezim Orba

http://www.pssi-football.com/id/image/kostum.gifBertahtanya Soeharto yang menggantikan Soekarno sebagai penguasa membuat beda rupa pers olahraga di Indonesia. Di zaman Orba, fokus pemberitaan media berkisar pada masalah ekonomi dan pembangunan. Topik politik jadi liputan yang tidak aman, rawan tekanan, peka sensor dan breidel.

Ketika berita politik tak lagi jadi bahan yang paling menarik diwartakan, bahkan terpaksa dihaluskan demi terhindar dari tebasan aparat Orde Baru, Jadilah para penggiat media mulai menolehkan pandangan ke tema-tema hiburan sebagai sajian yang tak lagi remeh. Varia olahraga adalah salahsatu primadonanya.

Kondisi yang seperti ini justru membikin publik lebih tertarik. Pasalnya, masyarakat kini bisa lebih leluasa mengakses informasi-informasi yang non politik, lantaran sebelumnya hal-hal semacam itu hanya didapat dari saluran resmi pemerintah, yakni TVRI dan RRI. Sebaliknya, rapot olahraga nasional di era Orba pun bisa dikata masih cukup prestisisus. Pembinaan yang relatif baik membuat prestasi olahraga boleh dibilang dalam garis yang stabil. Dari awal rezim hingga dekade 1990-an, banyak bermunculan olahragawan berbakat, sebut saja Ronny Patinasarani, Ronny Pasla, hingga Widodo C Putro dan Kurniawan (sepakbola), Christian Hadinata, Alan Budikusuma, Susi Susanti (bulutangkis), atau Ellyas Pical (tinju) dan Yayuk Basuki (tenis), juga seabrek atlit hebat lainnya. Bahkan, atlit-atlit Indonesia sudah mulai merintis perolehan medali emas di tiap-tiap penyelenggeraan Olimpiade.

Mundur lagi ke kurun 1970-an, koran-koran nasional mulai memperluas porsi untuk hiburan, terutama olahraga. Harian Merdeka, contohnya, menjadi bacaan favorit untuk para pandemen berita krida, kendati suratkabar ini sudah cenderung lekat sebagai koran umum. Harian lainnya semisal Kompas dan Sinar Harapan, juga menerapkan strategi serupa, dengan menyisihkan satu halaman full khusus untuk liputan olahraga. Dalam perjalanan waktu, terutama sejak awal 1980-an, berita olahraga Kompas sudah di atas angin karena konsistensi dalam liputan, pemberitaan yang lebih bervairasi, yakni memberi porsi berita yang layak untuk bulutangkis, renang, atletik, tinju, yang sebelumnya kalah dibandingkan sepakbola.

Di dekade 1980-an itu pula yang menjadi kebangkitan media khusus olahraga yang pernah diperankan majalah Olahraga pada beberapa puluh tahun silam. Sportif dan Olympic adalah majalah khusus olahraga yang mengawali kebangkitan ini, yang kemudian disusul oleh Bola dan Go yang hadir dengan tampilan baru dengan berbentuk tabloid. Dua tabloid olahraga yang disebut terakhir itu segera meraksasa dan bersaing dalam segala hal. Ini sangat mungkin terjadi karena baik Bola maupun Go sangat banyak persamaannya, baik dari sisi corak dan tampilan, juga pangsa pasarnya.

Tabloid Bola awalnya terbit sebagai sisipan 16 halaman harian Kompas di hari Jumat, namun kemudian diterbitkan terpisah. Ceritanya, pada 1984, beberapa wartawan Kompas yang dimotori Sumohadi Marsis, seorang jurnalis olahraga, berupaya menaikkan reputasi Kompas. Maklum, di kurun itu, harian yang dianggap terbaik adalah Merdeka. Lantas Marsis bersama rekannya, Ignatius Sunito, berinisiatif menerbitkan media khusus olahraga. Maka lahirlah tabloid Bola yang merupakan kepanjangan tangan dari Kompas di bidang olahraga.

Sejujurnya, Go lebih pantas disebut sebagai pelopor tabloid olahraga di Indonesia karena ketika Bola masih mengindung pada Kompas, GO sudah mengejutkan dunia pers nasional dengan format tabloidnya yang kala itu masih dianggap sebagai hal yang tidak populer dan “kurang lazim”. Namun saat Bola mengikuti jejak Go dengan berdiri sendiri dalam bentuk tabloid, Go justru mulai kepayahan, kendati masih bisa berkompetisi terutama dari segi harganya yang sedikit lebih terjangkau.

Payah yang dialami Go lama-lama semakin parah, serta akhirnya patah arang dan tak terbit lagi. Bola kian melambung, bergulir sendirian di pentas bisnis media olahraga di tanah air, apalagi ditambah dengan matinya beberapa majalah olahraga yang telah lahir sebelumnya, termasuk Olympic dan Sportif, juga Tribun Olahraga yang terbit belakangan. Hingga sekian lama kemudian, Bola masih kekal bertahan sebagai raja media olahraga.

TopSkor Menciptakan Rekor

Memasuki era reformasi yang dimulai sejak tumbangnya Soeharto tahun 1998, tabloid Bola masih mantap di papan teratas pemberitaan olahraga. Jejaring bisnisnya pun mulai meluas dengan menerbitkan beberapa pernik sebagai pemanis, salahsatunya yang paling laris adalah Bola Edisi Poster yang berisikan poster-poster para pesepakbola tenar, juga beberapa kali dari cabang olahraga lain, semisal tenis, Formula-1, atau Moto-GP. Pada akhirnya nanti, Bola kembali menyentak dengan menghadirkan format majalah bernama Bolavaganza yang berwujud elegan, lux, dan memberikan informasi sepakbola yang sangat bermutu.

Bola kian melaju deras ketika pada awal Agustus 1997 mereka meluncurkan situs bolanews.com. Ini merupakan gebrakan baru di kala itu. Situs yang dibidani oleh tim teknologi informasi pimpiman dikomandani Arief Witono tersebut diperkenalkan pertama-tama sebagai Bola Online karena isinya memang semata-mata adalah isi tabloid Bola yang disalin ke media internet. Kemudian, pada ulang tahunnya yang ke-15, 3 Maret 1999, konsep Bola Online mengalami peningkatan, bukan lagi hanya memindah isi tabloid ke internet tapi juga memberi nilai tambah dengan memberikan breaking news olahraga yang diperbarui setiap saat. Aksi-aksi seperti inilah yang membuat Bola kian digemari segmen pembacanya yang praktis nyaris semuanya tersedot di pusaran yang dibikin tim Bola.

Memasuki milinenium baru, sempat ada perlawanan untuk mencoba menggoyang kemapanan Bola, dengan hadirnya tabloid sejenis bernama Hai-Soccer. Anak baru ini memang lebih fresh dan energik dari sisi tampilannya dengan tujuan menarik simpati segmen anak-anak muda. Sempat berkompetisi ketat beberapa tempo, tetapi nampaknya Bola lebih memiliki mental juara dan kembali menjadi pemenang.

Hingga akhirnya, pada 6 Januari 2005, muncul pesaing baru tetapi dengan pemikiran dan konsep yang cukup cerdik. TopSkor hadir sebagai pelopor dan pemecah rekor. TopSkor cukup tahu diri. Mustahil menantang kedigdayaan Bola dengan perang secara terbuka, ia justru memilih beradu taktik dan strategi. TopSkor sengaja memilih kala terbit harian dengan memantik keunggulan dalam hal aktualitas, bahkan melewati Bola yang “hanya mampu” melayani pembacanya dua kali dalam sepekan. Jadilah, TopSkor menasbihkan diri sebagai harian olahraga pertama dan utama di Indonesia, kendati bagaimanapun juga Bola tak akan mudah untuk dilengserkan.

Untuk media elektronik, porsinya dibagi-bagi. Untuk siaran Olimpiade memang masih dipegang TVRI kendati stasiun televisi pemerintah ini tidak lagi menjadi kegemaran publik. Sedangkan untuk siaran perhelatan besar sepakbola dunia, yakni Piala Dunia dan Piala Eropa, beberapa stasiun televisi swasta, terutama RCTI dan SCTV, turut ambil bagian dalam tender penyiaraannya. Terakhir, pada Piala Dunia 2006 yang dihelat di Jerman, SCTV menjadi satu-satunya pemegang hak siar seluruh pertandingannya.

Siaran langsung dan tunda liga-liga dunia, juga digilir oleh beberapa televisi swasta, kecuali TVRI yang sempat menayangkan Liga Jepang (J-League). Dekade 1990-an, di mana Liga Italia Seri-A menjadi kompetisi sepakbola terfavorit di Indonesia, RCTI lama merajai penyiarannya, termasuk hightlights pada tiap-tiap pekannya. Ketika RCTI beralih ke Liga Jerman (Bundesliga) dan kemudian Liga Spanyol (Laliga), siaran Liga Italia beralih ke SCTV meski hanya sejenak. RCTI juga memonopoli hak siar pertandingan Piala Champion Eropa dan Piala UEFA.

Sedangkan untuk Liga Inggris (Premier League) menjadi bagian dari siaran unggulan TV-7 meski kemudian stasiun yang kini bernama Trans-7 setelah bergabung dengan Trans TV itu kepayahan membayar hak siar dan beralih ke Seri-A. Sementara untuk pasar domestik, Liga Indonesia dan Copa Indonesia, masih ditekuni oleh AN-TV kendati stasiun yang sempat nyaris bangkrut ini sempat menayangkan pertandingan Piala FA Inggris.

Untuk siaran pertandingan yang dilakoni tim nasional Indonesia, beberapa kali stasiun-stasiun televisi swasta bergantian mendapatkan tendernya, baik jaringan MNC (RCTI, TPI, GLOBAL), serta beberapa stasiun tv swasta lainnya. MNC juga mendapat kehormatan untuk menyiarkan Piala Asia 2007 yang dilangsungkan di 4 negara Asia Tenggara: Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Demikian pula dengan siaran Piala AFF (dulu Piala Tiger, untuk negara-negara ASEAN) 2008 yang digelar di Indonesia dan Thailand, di mana grup MNC yang memiliki hak siarnya.

Sementara untuk prestasi olahraga nasional di perjalanan era reformasi, Indonesia cukup menorehkan beberapa catatan positif meski banyak juga sisi bobrok yang terkuak, terutama carut-marut PSSI di era kepemimpinan Nurdin Halid yang dibui gara-gara korupsi hingga kini. Terlepas dari itu, olahraga Indonesia kembali memunculkan bintang-bintang baru di banyak cabang, seperti Bambang Pamungkas, Ponaryo Astaman, Boaz Solossa, atau Muhammad Ilham (sepakbola), Taufik Hidayat dan rombongan pebulutangkis kelas wahid, Angelique Widjaja (tenis), hingga Chris John yang digdaya di dunia tinju.

Kesuksesan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Asia 2007, di mana tim Merah Putih sempat membuat kejutan dengan menang atas negara teluk Bahrain, serta hanya kalah tipis dengan dua raksasa Asia, Korea Selatan dan Arab Saudi, membuat Indonesia dipercaya mengemban tanggungjawab sebagai tuan rumah di beberapa perhelatan olahraga tingkat dunia lainnya, di antaranya adalah Asia Beach Games (ABG) 2008 di Bali dan Piala AFF 2oo8 di Jakarta. Dan kita sebagai bangsa indonesia harus bersaing dengan negara lain. Untuk menyelengarakan Olahraga terbesar di dunia yaitu FIFA 2022 Semoga kita dapat mengikuti jejak pahlawan yang mengharukan bangsa di hari yang sekarang dalam berbagai bidang tertentu.

Referensi:

Agung Dwi Hartanto (2007), “Pantjaran Warta: Anak Hindia Soedah Berapi!”, dalam Muhidin M Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan 1907-2007, Jakarta: Iboekoe, 2007, hlm. 37.

H Harsuki (et.al.), Olahraga Indonesia dalam Perspektif Sejarah: Periode Tahun 1945-1965, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, hlm. 38.

Hendry Ch Bangun, Wajah Bangsa dalam Olahraga: 100 Tahun Berita Olahraga Indonesia, Jakarta: Pustaka Spirit & Intimedia Jakarta, 2007, hlm. 13.

Iswara N Raditya (2007), “Njoto:Kalau Sport Sudah Politik, Apalagi Sastra dan Seni!” dalam Taufik Rahzen, (et.al.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: Iboekoe, 2007, hlm. 226.

Iswara N Raditya (2007), “Olahraga: Pengabar Krida Negara”, dalam Seabad Pers Kebangsaan 1907-2007, Jakarta: Iboekoe, 2007, 455.

Iswara N Raditya (2007), “SCTV: (Dari) Satu untuk Semua”, dalam Muhidin M Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan 1907-2007, Jakarta: Iboekoe, 2007.

Iswara N Raditya (2007), “TopSkor: Mengolah Raga Sepanjang Kala dalam Muhidin M Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan 1907-2007, Jakarta: Iboekoe, 2007, hlm. 715.

Iswara N Raditya (ed.), 7 Bapak Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 294.

JB Kristanto (ed.), Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: Penerbit Kompas, 2000, hlm. 136.

Mahtisa Iswari (2007), “Sinar Baroe: Juru Bicara Saudara Tua”, dalam Muhidin M Dahlan (ed.), Seabad Pers Kebangsaan 1907-2007, Jakarta: Iboekoe, 2007.

Shiraishi, Takashi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997, hlm. xi.

Srie Agustina Palupi, Politik dan Sepak Bola, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2004, hlm. 74.

Taufik Rahzen (et.al.), Kronik Kebangkitan Indonesia, Jakarta: Iboekoe, 2008.

Media Massa:

Djawa Tengah, 23 April 1930.
Garuda, 8 Juni 1952.
Harian Rakjat, 4 Maret 1964.
Noesantara, 1 Mei 1937.
Olahraga, 1 April 1953.
Olahraga, 21 Mei 1940.
Pandji Poestaka, 18 Juli 1942.
Pantjaran Warta, 9 September 1910.
Pemandangan, 29 Mei 1936.
Pesat, 13 Januari 1962.
Sin Po, Juni 1952.
Sinar Baroe, 18 Mei 1943.
Sinar Matahari, 12 September 1942.
Sinar Matahari, 5 September 1942.

Sumber Foto: wembley.fortunecity.com

4 responses to “Sejarah Timnas Indonesia (lagi)

  1. Tisna Prabasmoro 9 Juni 2011 pukul 1:49 am

    mas boleh saya kutip?
    Saya lagi nulis2 tentang hal yang sama.
    Bila keberatan, mohon saya dikabari.
    Terima kasih.

    Tisna

  2. Tisna Prabasmoro 9 Juni 2011 pukul 2:03 am

    Kalo boleh tau, tulisan ini sumber aslinya dr mana ya?
    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 141 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: