Kompus

Komunitas Futsal Kereta Api

Mendidik Anak ala Ali bin Abi Talib

Menjadi orang tua,bukanlah pekerjaan sederhana. Salah jadi ortu bisa jadi sakit, sakit kita sakit pula anak. Adakah teori sederhana menjadi ortu ?

Berdasarkan pengalaman pribadi, sangat jitu nasehat yng pernah disampaikan sang khalifah tentang cara mendidik anak. Menurutnya ada tiga periode perlakuan dalam masa anak bersama orang tua pendidiknya (ada juga orang tua non pendidik?). Tiga periode itu adalah :

1. Periode tujuh tahun pertama.

Pada masa ini perlakukanlah sang anak sebagai raja.

Seorang raja selalu dipuji-puji, senang disayang-sayang,senang dikelilingi orang-orang tercinta, tidak mau dikritik, maunya dilayani,maunya dituruti keinginannya, sulit disuruh-suruh, apalagi dimarahi. Kita harus pinter-pinter mengendalikan kemauannya. Kalau tidak dia bisa menjadi raja yang lalim, anda terlalu diperbudak keinginannya…jangan sampai, anda orang tua harus lebih smart supaya tidak stress. Jadikanlah ia seorang raja yang baik. Raja yang baik tau bertrimakasih. Anda akan disayang anak jika memperlakukannya dengan sepantasnya. Ajarkanlah hal-hal yang benar dengan metode mendorong sang anak, jangan dengan kritikan. Berikanlah pujian anda ketika sang anak melakukan hal-hal yang benar. Maka akan tumbuhlah sift-sifat baiknya.

Jika pada masa ini anda terlalu banyak marah-marah, mengkritik sang anak karena terlalu nakalnya, maka anda merusak dua hal yakni diri anda dan sekaligus anak anda. Kritikan tidak diperhatikan,anda tambah stres. Memang ini pekerjaan seni, seni meluruskan dengan cara tanpa pukulan. Bukankah seorang ayah adalah jagoan dlm mendapatkan keinginannya melalui cara halus, memuji merayu, membuat suka dan akhirnya mendapatkan yang diinginkannya?

2. Periode  Tujuh tahun kedua.

Jadikan anak anda sebagai tawanan.

Ya, kontradiktif dari masa tujuh tahun pertama, pada masa ini maksudnya seorang anak harus dimasukkan doktrin-doktrin tentang kebenaran versi ortunya. Masa iniboleh disebutmasa meng install program-program kebaikan pada diri sang anak. Itulah kenapa anak SD masuk sekolah pada umur tujuh tahun.

Anak pada masa ini butuh petunjuk apa yang benar dan salah dari ortunya. Pada saat ini anda boleh mengkritik seperlunya. Jangan sampai anda ortu lupa tidak memberikan pengarahan pada masa ini, dibiarkan mendidiknya pada sekolah formal saja. Hasilnya anak tidak tahu perbuatan  yang baik dan benar. Apalagi jika anak dibirkan mendapat pengajaran dari teman sebaya, teman nge game internet, bahkan game internet  pun punya cara “mendidik” konsumen kecil mereka. Game internet tuh ,…ada yang model jagoan perang…jika sudah menjadi jawara maka hadiahnya main seks dengan karakter dalam game tersebut? siapa bilang itu tidak asyik? itulah kenapa game online menarik anak-anak ,bahkan yang sudah berumur.

3. Periode tujuh tahun ketiga.

Jadikan anak sebagai teman dekat.

Pada masa ini anda adalah berteman. Teman tidak bisa sering dimarahi. Teman itu diajak berdiskusi, karena dia sudah punya opini dan sudut pandang sendiri yang patut dihargai. Teman itu diajak makan bersama, jalan bersama, ngobrol bersama, main bersama.

Lalu dimanakah orang tua , jika dia jarang berinteraksi dengan anak-anaknya??????

Bisakah kita menjadi ortu,lalu menyerahkan pada sekolah , tetangga, teman-temannya, pada dunia maya?

One response to “Mendidik Anak ala Ali bin Abi Talib

  1. cahmath 5 September 2011 pukul 10:57 pm

    Lalu bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya? trm ksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 141 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: